ACEH TAMIANG – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan menyebutkan wilayahnya kini fokus mengembangkan tanaman bawang merah untuk memasok kebutuhan lokal dan juga sebagai salah satu upaya dalam menekan laju inflasi, di lahan 2 hektar dengan target hasil 50 ton, di Kampung Ie Bintah Kecamatan Manyak Payed.
Namun saat ini keadaan cuaca sangat tidak mendukung untuk tanaman tersebut, namun demikian cuaca bukan masalah jika usaha dalam budidaya ini benar-benar dilakukan agar hasil yang dicapai dapat maksimal.
Bagi petani bawang yang sudah suka dengan komoditas bawang merah, musim hujan bukan lagi sekadar fase risiko, melainkan fase yang menuntut rekayasa teknis.
Saat lalu, sebagian lahan masih dikelola dengan pola datar, tanpa sistem drainase memadai. Hujan dengan intensitas tinggi membuat air menggenang berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Akar bawang yang dangkal tidak mampu bertahan dalam kondisi tanah jenuh air, apalagi tidak ada sistem parit dalam yang membantu mengalirkan air.
Plt. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan, Irwan Hadi mengatakan “Pada kondisi yang lembab, berkabut atau curah hujan tinggi, cendawan akan membentuk massa spora yang sangat banyak dan bisa menginfeksi daun. Akibatnya, lapisan luar daun menjadi layu dan mengering, bahkan bisa juga mengakibatkan umbi membusuk” ucapnya kepada media di Karang Baru pada Selasa (27/10/2026).
Irwan Hadi juga menjelaskan, bedengan musim hujan idealnya dibuat setinggi 30–40 sentimeter dengan lebar menyesuaikan jarak tanam. Sementara parit di antaranya cukup dalam untuk menampung limpahan air hujan.
Prinsipnya sederhana. Air harus punya jalan keluar. Kalau air diam di sekitar akar lebih dari beberapa jam, risiko infeksi meningkat.
Secara fisiologis, bawang merah memerlukan aerasi tanah yang baik. Saat pori tanah terisi penuh oleh air, difusi oksigen terhambat. Akar mengalami stres hipoksia, penyerapan unsur hara terganggu, dan jaringan menjadi rentan terhadap patogen tular tanah, seperti fusarium. Dalam kondisi lembab ekstrem, jamur penyebab moler berkembang pesat dan menyerang jaringan pangkal batang bawang, hingga umbi membusuk.
Parit dalam berfungsi sebagai sistem drainase cepat. Begitu hujan reda, air dari permukaan bedengan langsung mengalir ke parit, tidak tertahan di zona perakaran.
Bedengan tinggi menjaga akar tetap berada pada lapisan tanah yang lebih kering dan berstruktur gembur.
Bedengan yang tinggi dapat mengurangi kontak langsung air hujan dengan tanah, sehingga percikan tanah yang kerap membawa spora penyakit ke daun dapat ditekan. Selain itu, mulsa membantu menjaga kelembaban tanah tetap stabil dan mengurangi pencucian unsur hara.
Air hujan di sejumlah wilayah memiliki sifat agak asam. Tanpa perlindungan, curah hujan tinggi dapat mempercepat pencucian kalsium, magnesium, dan unsur hara lain, sekaligus memicu fluktuasi pH tanah.
Dengan bedengan tinggi, dampak tersebut lebih terkendali. Aktivitas mikroorganisme menguntungkan di zona akar pun relatif lebih stabil karena suhu tanah tidak terlalu fluktuatif.
Kombinasi parit dalam dan bedengan tinggi menjadi standar minimum musim hujan. Hal ini sudah dianggap penyelamat utama, selama pengawasan dilakukan ketat.
Disiplin Pascahujan
Jika parit dan bedengan adalah fondasi fisik, maka disiplin pascahujan adalah fondasi manajerial.
Musim hujan menciptakan kelembaban udara tinggi dan intensitas cahaya matahari yang lebih rendah, kombinasi ideal bagi perkembangan jamur dan hama.
Irwan Hadi menyampaikan kegagalan petani bawang merah bukan hanya soal genangan. Kendati lahan sudah tidak tergenang, tapi daun lama kering. Jika tidak segera disemprot, penyakit mudah masuk.
Ia pun kini menjadikan hujan deras sebagai alarm untuk inspeksi. Begitu hujan berhenti, ia turun ke lahan, memeriksa bagian bawah daun, mencari bercak kecil, perubahan warna, atau gejala layu dini.
Pendekatan ini harus tetap dilakukan. Dalam kondisi kelembaban tinggi, siklus hidup patogen menjadi lebih cepat.
Spora jamur dapat berkecambah dalam hitungan jam jika permukaan daun basah cukup lama. Thrips (salah satu hama utama bawang merah) juga cenderung aktif pada suhu sedang dan kelembaban tertentu.
Karena itu, Irwan mendorong pola pemantauan minimal setiap 1–2 hari sekali pada musim hujan. Ia pun mengingatkan bahwa deteksi dini jauh lebih murah daripada mengobati serangan berat.
Sebab ketika serangan sudah menyebar dalam satu petak, biaya pengendalian meningkat dan potensi kehilangan hasil sulit dihindari.
Plt. Kadis ini juga menambahkan intervensi pascahujan harus memperhatikan waktu aplikasi. Penyemprotan fungisida atau agen hayati tidak efektif jika dilakukan saat daun masih terlalu basah karena larutan mudah tercuci.
Sebaliknya, menunggu terlalu lama memberi ruang patogen berkembang. “Musim hujan itu soal disiplin dan ketepatan waktu,” ujarnya.
Selain inspeksi visual, petani juga diminta memastikan parit tetap berfungsi. Lumpur atau sampah yang menyumbat aliran air harus segera dibersihkan.
Bedengan yang tergerus air perlu diperbaiki agar struktur tetap kokoh. Dengan kata lain, pengawasan bukan hanya pada tanaman, tetapi juga pada infrastruktur lahan.
Dengan harga rata-rata saat ini sebesar Rp 40.000 sampai Rp. 50.000 per kilogram menunjukkan bahwa potensi nilai ekonomi bawang merah cukup tinggi, terutama saat penghujan. Saat kemarau, harga biasanya turun seiring luasan areal pertanaman di musim kering.
Risiko kehilangan hasil akibat kelalaian manajemen hama bukan perkara kecil. Setiap persen penurunan produksi berarti hilangnya produksi potensi panen.
Rangkaian praktik ini menegaskan bahwa teknologi fisik tanpa disiplin lapangan tidak akan cukup. Parit menjaga akar tetap kering, bedengan yang tinggi menstabilkan tanah, tetapi pengamatan rutin dan respons cepatlah yang menjaga daun dan umbi tetap sehat hingga panen.
“Di titik inilah perjuangan petani di musim hujan berubah menjadi usaha berbasis data dan pengendalian risiko” tegas Irwan Hadi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan